My life

Vaksin HPV yuk?

Selamat siang!

Tulisan ini terinspirasi dari kisah seorang selebriti tanah air yang baru saja meninggalkan kita beberapa waktu lalu. Yup! Julia Perez! Setelah 3 tahun berjuang melawan penyakit kanker serviks, akhirnya tubuhnya menyerah. Meskipun saya 100% yakin jiwanya masih memiliki semangat tinggi untuk hidup. Anyway, semua informasi mengenai kanker serviks sebenarnya bisa didapat secara mudah. Kalau malas ke rumah sakit, ya tinggal googling saja. Semua tersedia mulai dari penyebab sampai upaya pencegahan. Jadi sekarang saya hanya akan membahas sedikit saja mengenai penyakit kanker serviks ini dan lebih banyak bercerita tentang pengalaman saya melakukan vaksin HPV.

HPV merupakan singkatan dari Human papillomavirus. Menurut WHO, HPV merupakan grup virus yang umum dijumpai di seluruh dunia, dimana pria dan wanita yang sudah aktif secara seksual mungkin terjangkit virus ini pada satu waktu atau bahkan terjangkit berulang kali. Namun demikian, WHO menambahkan pula bahwa tipe HPV ada bermacam-macam dan kebanyakan tidak sampai menimbulkan masalah berarti. 

Pertama kali saya mulai aware dengan kanker serviks ini adalah tahun 2013 setelah mem-follow akun twitter seorang dokter (akunnya @dirgarambe, btw). Sebelumnya sudah sering dengar sih tentang penyakit ini tapi ya begitu deh…masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Kenapa? Mungkin alasannya sama dengan banyak perempuan lainnya; penyakit ini terasa jauh dan tidak nyata karena belum pernah menyaksikan sendiri dan tidak ada kerabat dekat yang mengalami. Ditambah lagi, lingkungan pergaulan saya tidak pernah membahas mengenai kanker serviks ini, apalagi upaya pencegahannya. So I treat it like a non-exist disease.

Anyway, saya yang ketika itu sedang sekolah di Bandung akhirnya mulai mencari-cari informasi. Tentang vaksin HPV, ketentuan vaksin, harganya, dan rumah sakit mana saja yang menyediakan vaksin tersebut. Setelah telpon sana-sini akhirnya ketahuan lah bahwa rumah sakit di depan kampus saya ternyata menyediakan vaksin HPV ini dengan harga yang jauh lebih murah daripada semua rumah sakit se-Jakarta dan Bogor. Kenapa harga jadi pertimbangan? Ya karena buat saya upaya kesehatan harus dicocokkan juga dengan kondisi keuangan dong.

Ada 2 macam vaksin HPV yaitu Gardasil dan Cervarix. Apa bedanya? Gardasil adalah vaksin HPV dengan 4 strain virus, yaitu strain 6, 11, 16 dan 18 sedangkan Cervarix dengan 2 strain virus yaitu strain 16 dan 18. Secara harga, Gardasil juga lebih mahal daripada Cervarix. Tahun 2013 (ketika saya vaksin) harga Gardasil Rp. 850.000,- dan Cervarix Rp. 550.000,-. Tapi bukan berarti Gardasil lebih baik atau efektif lho ya…karena strain penyebab kanker serviks itu strain 16 dan 18, jadi dua-duanya sama-sama cover kok. Sedangkan strain 6 dan 11 ditengarai sebagai penyebab penyakit kutil kelamin.

Saya akhirnya memilih vaksin Gardasil. Dengan pertimbangan harganya tidak selisih jauh, dan rumah sakit tersebut memberikan promo transaksi di atas Rp. 500.000,- menggunakan kartu kredit salah satu bank swasta nasional mendapat fasilitas cicilan 3 bulan bunga 0%. Jadi tidak terlalu terasa berat lah ya buat kantong mahasiswa. Suntikan diberikan bulan ke-0, 2 dan 6. Suntiknya di lengan. Setelah divaksin, saya diberi kartu vaksin supaya tidak lupa.

image1

Ini kartunya tampak depan. Lucu yaa…warnanya pink.

kartu HPV

Ini tampak belakang kartu. Tertera nama lengkap pasien dan tanggal vaksin. Setelah divaksin, stiker dari box vaksin akan ditempel juga di kartu untuk menginformasikan secara lengkap lot dan tanggal kadaluwarsa vaksin. Supaya gampang telusur juga in case terjadi sesuatu.

Oke, semoga sedikit informasi ini bermanfaat. Please, do your research and find the nearest hospital or clinic to get your most suitable prevention against cervical cancer! Bagi yang memiliki saudara perempuan, adik, kakak, atau teman yang belum melakukan vaksin HPV tolong diingatkan. Kadang-kadang ada juga rumah sakit yang memberikan promo vaksin HPV, entah potongan harga atau promo cicilan. Kuncinya hanya rajin bertanya supaya ga sesat di jalan. Buat yang masih merasa harga vaksin HPV itu mahal? Well, kalau dihitung sekarang mungkin terasa berat tapi kalau dibandingkan dengan biaya pengobatan kanker harga vaksin ini jauh sekali murahnya.

 

-L-

 

Refferences

WHO. 2017. Human papillomavirus (HPV) and cervical cancer. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs380/en/. Accessed on June 16, 2017.

 

Disclaimer:

Tulisan ini lebih condong ke arah opini dan cerita pengalaman, dan tidak didasarkan pada tulisan ilmiah. Jadi dilarang mengutip sebagian atau seluruh tulisan ini untuk kepentingan apapun. Tapi yang mau bertanya atau berpendapat di kolom comment dipersilakan lho yaa

Uncategorized

Welcome!

Hai!

Selamat datang di blog saya 😁

Akhirnya saya bikin blog! Yes, a blog! A totally different way of writing (than I did for years in secret) that I planned to start today 😊

First of all, kenapa namanya “simply life observer“? Karena saya ingin blog ini bisa dianalogikan sebagai “rumah”. Jadi, sebagaimana layaknya rumah, penghuninya bebas mengamati dan mengekspresikan apa saja disini. Means, I can write whatever things come to mind. From simple to complicated things, from travel experiences to daily life stories. Semua! Dan semua pembacanya tentu juga bebas mengomentari atau bertanya (jika mau). Tapi…sebagaimana di setiap rumah memiliki peraturan sendiri-sendiri, blog ini juga punya peraturan lho. Di antaranya tidak boleh menyinggung SARA dan politik, tidak diperkenankan debat kusir ga jelas (well…apa juga sih ya yang mau diperdebatkan 😅). Basically, no offensive writings whatsoever allowed!!

Secondly, harap dimaklumi kalau bahasa dalam blog ini serba campur-campur. Maklum, sekalian mengasah kemampuan bahasa yang dicurigai semakin menurun setelah sekian lama dianggurkan di pojok ruangan. Semua pengunjung juga bebas memakai bahasa campur-campur kok, yang penting bisa dimengerti oleh semua. Lalu karena saya ingin pembacanya antar dunia dan antar bahasa (ciee!), kemungkinan beberapa tulisan akan disediakan dalam dua bahasa. Tapi jangan kaget kalau isinya sedikit berbeda antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggrisnya. Normal kok, karena penyesuaian gaya bahasa saja.

Last but not least, hope you all enjoy reading this blog as much as I do when writing it. And hopefully this blog can broaden our horizon, way of thinking, also gain new perspective about life as a whole. Terima kasih sudah berkenan mampir yaa…

.
.
.
.
.
.
.

Hi!

Welcome to my blog! 😁

Finally, I made a blog! Yes, a blog! Yeayyy!!! A totally different way of writing (than I did for years in secret) that I planned to start today 😊

First of all, why it is called “simply life observer”? Simply because I want this blog to have a “homey” sensation. So, like a home in general, all of its residents are freely observe and express whatever feelings they have. Means, I can write whatever things come to mind. From simple to complicated things, from travel experiences to daily life stories. All without exception! And I sincerely hope that the readers will freely comment or ask, if they want to. However, as every house has its own rules, this blog also has its rules! Basically, no offensive writings whatsoever allowed!!

Secondly, please be aware that this blog is provided with two languages; Bahasa and English. This is to accommodate people across countries who visit and share their experience here. It also serves as a mean of practicing my language ability that I felt rapidly deteriorating if not being used properly. Everybody can try to write in English here, don’t be shy 😊 just make sure that it is clear enough for others to understand.

Last but not least, hope you all enjoy reading this blog as much as I do when writing it. And hopefully this blog can broaden our horizon, way of thinking, also gain new perspective about life as a whole.

Thank you for stopping by!