My thoughts

Bijna Jarig

Saat- saat pertambahan usia biasanya diiringi dengan perenungan pribadi. Apa saja yang sudah dicapai, apa lagi yang ingin diraih, dan bagaimana cara mewujudkannya. Apalagi jika sudah menginjak usia 17 (uhuk!) seperti saya hehehe 😁 Dan malam ini saya berpikir….banyak, tentang hidup: pekerjaan, personal life, personal goals.

Bagi yang mengetahui sejarah saya “nyasar” ke pekerjaan yang sekarang pasti tahu pertanyaan-pertanyaan yang rutin saya tanyakan ke diri saya sendiri sejak hari pertama mulai bekerja: Does my job makes me happy? Does the paycheck enough? Is this what I want? And more; Is this what I need? Dan rasanya jawaban atas pertanyaan itupun sudah sangat jelas. Ada masanya ketika rekan-rekan kerja bertanya kenapa ga balik lagi ke tempat yang dulu? Kayaknya kamu lebih cocok disitu. And I smiled 😊 To be honest, saya termasuk golongan orang yang membelenggu diri kedalam sistem besar yang lama-kelamaan mulai “mematikan” saya. Passion mulai tergantikan dengan rutinitas sehingga malas mengerjakan sesuatu diluar yang rutin-rutin itu meskipun ada waktu. Kreativitas dan ide mulai dipendam karena untuk apa berpendapat kalau tidak akan dipakai? And it got worst by day

Kemudian, orang yang tidak terlalu mengenal saya akan bertanya “Why are you still single?” hehehe…dan sudah mulai bosan juga jawabnya “Ya karena belum ketemu aja”. Jawaban klise? Iya! Tapi memang begitu kenyataannya mau bagaimana lagi dong? Banyak yang beranggapan pasti kriterianya tinggi. Pasti syaratnya berat. To be honest, saking ga berat kriterianya sampai ga kepikiran kalau syaratnya sesederhana itu lho πŸ˜‚ Tapi jujur sepanjang saya bisa mengingat, saya tidak pernah memasukkan agenda menikah dalam prioritas hidup saya sampai sekitar 2 tahun lalu. Apalagi mendoakan. Dulu sekali pun tidak pernah.

Dulu Ibu saya pernah bertanya sewaktu saya menjelang lulus kuliah “Jadi habis ini mau apa?” Jawab saya “Kerja”. Lalu beliau tanya lagi: terus? “Kuliah lagi, ambil S2”. Terus?? Tanyanya lagi dengan nada naik setengah. “Trus kerja lagi” sahut saya santai. Terus??? Tanyanya lagi dengan nada lebih tinggi dari yang sebelumnya. “Kuliah lagi, ambil S3” jawab saya enteng. “Terus kapan kamu kawinnyaaa????” sanggah beliau dengan nada naik 1 oktaf πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Saya juga ingat ketika gank saya (yes, dulu saya nge-gank juga kok waktu kuliah) merencanakan reuni setelah lulus. Tahun sekian di Hotel Indonesia (yang sekarang sudah ga ada lagi hehehe). Kita sibuk merancang-rancang: si A nanti bawa anak dua, si B berecetan anaknya, si C bla bla bla dan saya datang melenggang sendirian ✌🏻️😁 Suatu malam dalam percakapan sebelum tidur dengan sahabat saya, dalam kondisi agak gelap (karena saya ga bisa tidur dalam gelap total), tengah malam, mata terpejam tapi bibir terus ngoceh, saya bertanya “Memangnya harus nikah ya? Bisa kan hidup berdua aja ga pakai nikah?” dan saya ingat dia cuma jawab “Yang penting lo bahagia…”

Ada juga pertanyaan yang muncul ketika saya masih tinggal di benua biru sana. Kok ga cari bule sih? Well…the answer might sound shallow but I think no matter how liberal my brain be, I am still an eastern girl in heart. Pasti sudah pada tahu dong kehidupan bule itu kaya gimana? Pola pikir, kebiasaan, dan gaya hidup mereka yang lumayan beda sama kita. So I said gimana aku mau ngajarin anakku kenal Tuhan kalau bapaknya ga beriman? Gimana aku mau suruh anakku baca alkitab kalau bapaknya ga pernah? Gimana aku mau suruh anakku ke gereja kalau bapaknya enggak? Dan saat itu ada teman yang nyeletuk “Aku ga nyangka kamu begitu standarnya” Ahh…penampilan bisa sangat menipu ya? πŸ˜…

Jadi ketika 2 tahun lalu saya sudah berhasil meraih mimpi saya sekolah di negeri orang, menjelajah bagian dunia sana, I thought: I am ready for a new adventure now. I am ready to settle down. Then I start to put marriage into my priority and pray for it. Tapi kan ga semua doa cepat dapat jawaban kan? Ada sih memang yang baru ketemu 3 bulan langsung merasa cocok lalu menikah. Ada juga yang ketemu teman lama lalu langsung berhubungan serius dan merencanakan menikah. But in my case it might be a little different. Jadi ya sabar aja ☺️

Wah jadi panjang ceritanya hehehe..to sum up, semua orang pasti ingin menjadi lebih baik lagi dan punya kehidupan yang baik. Begitu juga saya. Akhirnya di tengah segala himpitan kemalasan ini saya mulai mendata lagi apa-apa saja yang menjadi passion saya dan mulai mengerjakannya lagi satu-persatu. Daftarnya panjaaaang sekali. Menulis, belajar bahasa asing, mulai invest, sampai merajut (??). Berat? Ya pasti. Namanya berusaha lagi menghidupkan kebiasaan yang lama ditinggalkan, pasti terasa aneh buat dilakukan rutin lagi. But I have a motto: Journey of a thousand miles begins with a single step. And baby step will do just fine ☺️

 

-L-