My thoughts

Banyak Bukan Berarti Semua. Beberapa Bukan Berarti Tidak Ada

Selama ini bulan Maret selalu punya tempat khusus di hati saya. Saya selalu memulai bekerja di tempat baru di pertengahan Maret. Unconsciously. Anjing kesayangan saya dulu, Phoenix (RIL), lahir di bulan Maret. Dan banyak hal lain yang terjadi di bulan ini. Terutama di tanggal 20. Bertahun-tahun lalu saya pernah sangat menantikan tanggal ini, for a reason 😊. Dan hari ini pun saya mendapat hal baru.

Berawal dari cerita personal trainer saya yang sedang sakit gigi, di sela2 menghitung gerakan latihan yang beradu dengan kencangnya suara napas (saya) yang seperti mau ambruk saking ga kuat nahan beban (fitness ya, bukan beban hidup 😜). Dia bercerita tentang pelayanan dokter gigi di satu Puskesmas yang dirasa sangat tidak menyenangkan. Well…needless to say more, saya sudah sangat sering mendengar orang mengeluhkan hal yang sama ketika memanfaatkan BPJS. Yang katanya begini lah, begitu lah, bla bla bla. Nah itu dari sisi konsumen/pasien. Pernah coba dengar keluhan dari dokter dan rumah sakit atau fasilitas kesehatannya? Sering pastinya. Tapi rasanya ga perlu dituliskan disini karena saat ini saya ga pegang data pendukung yang lengkap. Namun hal yang perlu digarisbawahi adalah; ada beberapa dokter yang kurang mampu memberikan pelayanan ekstra ramah dan optimal kepada pasien BPJS. Mungkin karena lelah setelah mengurus pasien dalam jumlah banyak atau terkena peraturan RS yang harus dipatuhi, atau ya simply karena memang sudah sifat alamiahnya cuek, tegas dan jutek. Tapi ada juga orang yang aji mumpung ingin memanfaatkan BPJS lho…contohnya dengan memaksa pergi ke RS untuk berobat padahal sakitnya hanya sakit ringan yang sebenarnya bisa sembuh dengan istirahat yang cukup.

Orang kemudian cepat mengambil kesimpulan: Ooo semua dokter pelayanan kepada pasien BPJSnya buruk. Sedangkan di sisi lain ada pula pendapat: “Mudahnya” akses kesehatan membuat semua orang semakin irasional. Memaksa diri ingin diperiksa dokter padahal sakitnya sakit biasa yang tidak perlu minum obat dari dokter. “Banyak” telah digeneralisir menjadi “semua”.

Cerita kedua dari satu-satunya pejantan Northern White Rhino di dunia yang mati karena usia. Selama ini kita melihat badak sebagai hewan yang…so so aja. Karena jumlahnya sedikit, pemalu dan soliter, sehingga tidak terlihat oleh mata orang awam mengenai apa perannya dalam rantai kehidupan alam. Saking sedikitnya, sampai orang belum tentu “ngeh” kalau beberapa jenis badak di luar sana masih berjuang keras mempertahankan spesiesnya di tengah himpitan kemajuan zaman. Apalagi peduli ikut menjaga kelestarian hewan yang jumlahnya sangat sedikit tersebut. Dalam kasus badak ini, “Beberapa” seolah-olah disamakan dengan “Tidak Ada”. Dan masih banyak lagi contoh peng-generalisir-an lainnya pada bidang berbeda, seperti sikap terhadap perubahan iklim, sifat orang berdasarkan kesukuan, kekerasan atas dasar agama, sikap keprofesian, dll.

And I thought…wow, this simple natural habit of people could easily tear someone’s life in a blink of an eye. How dangerous human nature is! And worst, how dangerous my careless act of generalizing could be to others! So I said to myself; let’s stop generalizing things, okay? And learn to see from the other side first before judging, because there is always two sides of a story.

So long, Sudan! Rest in love. You were one important part of a species that had survived the everchanging nature for millions of years, but failed to survive mankind. You will be missed!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s